Aku pernah bertanya dalam hatiku, apa yang aku cari
ketika di hari semua orang memberikan kasih sayang. Sedangkan aku
tetap disini untuk terdiam, Bertanya siapa yang akan memberikan aku
sebuah coklat ataupun setangkai mawar merah yang artinya aku
disayangi. Dan ternyata hingga kini usiaku 20 tahun, tak seorang pun
yang memberikan hadiah, namun tahun ini aku mendapatkan sebuah hal
yang tak pernah aku pikirkan. Hadiah dari Kakekku?
Ia datang menempuh jarak yang cukup jauh dengan sepeda tuanya yang
layak untuk dimuseumkan. Bunyi sepeda yang mengiris dengki dan ngilu.
Namun ia tetap setia datang untuk memberikan aku sebuah hadiah. Aku
membuka pintu utama rumahku ketika ia datang memarkir sepedanya di
halaman rumahku. Ia tersenyum menatapku dengan membuka topi tua klasik
Cinanya. Usianya yang sudah 70 tahun tampak terlihat dengan rambutnya
yang sudah memutih.
“Kakek kok siang siang gini datang , apa ga kepanasan?”
“Gapapa. Mana mamamu?” Tanya Kakek
“Dia lagi pergi ke rumah tetangga..?”
“Oh.. ya sudah tak apa? Kamu kenapa tidak kuliah?”
“Ya, ampun kakek ini kan hari libur . hari minggu. Kakek pikun ya?”
“Ah.. maaf, Kakek lupa.. ini Kakek ada hadiah kecil untuk kamu?
Kakek memberikan aku sebuah hadiah dalam kotak kecil usam yang
berwarna merah. Tampak dekil dan aku menyentuhnya dengan sedikit jijik
lalu membukanya tampak sebuah liontin anting berbentuk bunga matahari
perak.
“Apa ini.. ?
“Ini hadiah untuk kamu, Cuma ada satu. Satunya lagi ilang. Ini saja
baru kakek temukan pas lagi beres beres gudang, sayang kalau dibuang.
Itu hadiah berkesan kakek untuk kamu.?”
“Hah.. mana jaman aku pake ginian..?”
“Hehehe.. ya simpan saja kalau kamu tidak suka?”
“Oh..kakek mau masuk dulu ga?”
“Kakek mau duduk diteras rumah kamu saja. Kamu ambilkan kakek Teh
hangat saja?”
“Oo.. ya sudah tunggu ya..!”
Beberapa saat kemudian aku keluar dengan sebuah Teh hangat sisa milik
ayahku yang sedang pergi bersama ibu. Memberikan teh tersebut di meja
teras, menatap wajah kakek yang sedang termenung memandang halaman
rumahku yang dipenuhi ikan mas di kolam kecil.
“Kek. Ini air tehnya..!”
“Makasih.. kamu kenapa kok valentine gini masih dirumah?”
“Hm.. kakek tau valentine juga ya.. kirain ga ada jamannya!”
“Enak saja. Biar tua gini.. kakek juga pernah muda lah!”
“Oh gitu ya..”
Aku memperhatikan wajahnya yang termenung. Keringat basah yang
bercucuran di keningnya terlihat menyatu dengan keriput tua di garis
wajahnya. Lalu ia tiba tiba mengajakku bicara.
http://www.gsn-soeki.com/wouw.../
“Kamu kenapa tidak punya pacar sampe sekarang?”
“Ga tau , Kek. Nasib jelek kali. Emangnya kenapa?”
“Gapapa. Kakek juga pernah berpikir sama kayak kamu kok. Tapi jangan
cemas Angel. Takdir cinta manusia itu akan selalu ada..!”|
“Lah.. kok bisa ngomong gitu. Kan angel ga jelek jelek amet kek.
Kenapa masih single ya. Iri deh sama
temen temen yang punya pacar di valentine gini.!!”
“hehehe.. kakek ada cerita buat kamu. Mau denger..?”
Aku mulai males mendengarkan dongengnya yang selalu kedengar sejak
kecil. Namun kesepian dalam rumah juga membosankan. Akhirnya aku
terdiam mendengarkan kisahnya saja. Toh tidak ada salahnya.
Di masa lalu.
Albert ( Kakekku) adalah seorang pria pemalu dalam segala hal. Bahkan
hingga ia duduk dibangku Sma ia tidak mendapatkan kekasih yang ia
inginkan. Namun ia bertaruh dengan seorang rekannya akan membawa
seorang wanita di hari Valentine. Ia pun bertekad memamerkan wanita
itu pada harinya. Dengan segenap usaha dan waktu yang sempit ia pun
mulai mencari cari. Dari adik kelas yang cantik hingga kakak kelas
yang cantik semuanya ia coba cari untuk menjadi pacarnya.
Bersambung ke part 2
Friday, January 16, 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)